IPTEK DALAM PERSPEKTIF PEMIKIRAN ISLAM
Oleh :
Voni Rizkia Ninda (125150402111006)
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2014
KATA
PENGANTAR
Dengan
memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat, karunia,
Inayah, Taufik dan Hidayah yang dilimpahkan-Nya kepada kami, sehingga kami
dapat menyeleseikan makalah yang berjudul “IPTEK dalam Perspektif Pemikiran
Islam” yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai
salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam menyikapi
perkembangan IPTEK pada zaman ini.
Makalah ini kami tujukan kepada
dosen pengampu matakuliah Pendidikan Agama Islam Khalid Rahman, S.Pd.I, M.Pd.I.
Makalah ini berisi tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), IPTEK
dilihat dari Pandangan Islam, IPTEK di Zaman Islam, Masa Kejayaan dan Kemunduran IPTEK dikalangan Islam.
Kami
mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kami yang
tidak dapat kami sebutkan namanya satu-persatu. Harapan kami semoga makalah ini
membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami
dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga ke depannya dapat
lebih baik.
Makalah
ini kami sadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan karena pengalaman yang kami
miliki sangat kurang dan makalah ini masih jauh dari sempurna untuk itu kami
menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan kearah
kesempurnaan. Akhir kata kami sampaikan terimakasih.
Malang, April 2014
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ilmu Pengetahuan Teknologi (IPTEK) telah mendarah
daging pada diri setiap orang pada zaman sekarang. Dalam kegiatan sehari-hari
tidak bisa terlepas dari teknologi.
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
merupakan salah satu faktor penunjang kemajuan Sumber Daya Manusia (SDM),
karena dengan adanya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi suatu negara bisa bersaing
dan disetarakan dengan negara-negara lain. Setiap manusia diberikan ilmu
pengetahuan oleh Allah SWT, agar menjadi orang berkualitas yang dapat
menjunjung tinggi derajatnya. Maka dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
manusia akan lebih bermanfaat, baik untuk dirinya maupun untuk masyarakat. Akan
tetapi, semua itu tergantung kemampuan yang timbul dari orang itu sendiri.
Islam adalah satu-satunyanya agama samawi yang memberikan
perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Islam tidak pernah mengekang umatnya
untuk maju dan modern. Justru Islam sangat mendukung umatnya untuk
melakukan research dan bereksperimen dalam hal apapun,
termasuk sains dan teknologi. Bagi Islam, sains dan teknologi adalah termasuk
ayat-ayat Allah yang perlu digali dan dicari keberadaannya. Ayat-ayat Allah
yang tersebar di alam semesta ini, dianugerahkan kepada manusia sebagai
khalifah di muka bumi untuk diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Salah satu
keagungan nikmat yang dikaruniakan Allah bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam ialah nikmat ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan sains
dan teknologi telah memberikan kemudahan-kemudahan dan kesejahteraan bagi
kehidupan manusia sekaligus merupakan sarana bagi kesempurnaan manusia sebagai
hamba Allah dan khalifah-Nya karena Allah telah mengaruniakan anugerah
kenikmatan kepada manusia yang bersifat saling melengkapi yaitu anugerah agama
dan kenikmatan sains teknologi.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apa
yang dimaksud dengan IPTEK?
b. Bagaimana
pandangan Islam tentang IPTEK?
c. Bagaimana
cara memanfaatkan IPTEK dengan baik sesuai ajaran Islam?
1.3 Tujuan
Tujuan dari
pembuatan makalah ini antara lain:
1.
Mewujudkan kesadaran dan menjalin hubungan pribadi yang akrab dalam
menghadapi masalah bersama.
2.
Memberikan informasi kepada pembaca tentang pentingnya kerukunan antar
umat beragama.
3.
Memotivasi dan mendinamisasikan umat beragama khususnya umat islam agar
dapat ikut serta dalam upaya menjalin tali silaturahmi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 ILMU PENGETAHUAN dan TEKNOLOGI
(IPTEK)
Sebelum memaparkan ilmu
pengetahuan dan teknologi, perlu diketahui sekilas tentang perbedaan antara
pengetahuan dan ilmu agar tidak terjebak pada kesalah pahaman mengenai
keduanya, sehingga bisa memahami dengan mudah dan benar apa yang dimaksud
dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang
terklasifikasi, tersistem, dan terukur serta dapat dibuktikan kebenarannya
secara empiris. Ilmu menurut Al-Qur’an adalah rangkaian keterangan yang
bersumber dari Allah yang diberikan kepada manusia baik melalui Rasulnya atau
langsung kepada manusia yang menghendakinya tentang alam semesta sebagai
ciptaan Allah yang bergantung menurut ketentuan dan kepastian-Nya.
Sementara itu, pengetahuan adalah
keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai metafisik maupun
fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupa common
sense, sedangkan ilmu sudah merupakan bagian yang lebih tinggi dari itu
karena memiliki metode dan mekanisme tertentu. Jadi ilmu lebih khusus daripada
pengetahuan, tetapi tidak berarti semua ilmu adalah pengetahuan. Menurut
Sutrisno Hadi, ilmu kumpulan dari pengalaman-pengalaman dan
pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang-orang yang dipadukan secara
harmonis dalam suatu bangunan yang teratur. Sedangkan teknologi adalah
kemampuan teknik yang berlandaskan pengetahuan ilmu eksakta dan berdasarkan
proses teknis.
2.2 IPTEK DILIHAT DARI PANDANGAN ISLAM
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) menurut pandangan Al-Qur’an
mengundang kita untuk menengok sekian banyak ayat Al-Qur’an yang
berbicara tentang alam raya. Menurut ulama terdapat 750 ayat Al-Qur’an yang
menjelaskan tentang alam beserta fenomenanya dan memerintahkan manusia untuk
mengetahui dan memanfaatkannya. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 31
yang artinya :“Dan dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian
diperintahkan kepada malaikat-malaikat, seraya berfirman “Sebutkan kepadaku
nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar”. Dari ayat di atas yang dimaksud
nama-nama adalah sifat, ciri, dan hukum sesuatu. Ini berarti manusia berpotensi
mengetahui rahasia alam semesta. Adanya potensi tersebut, dan tersedianya lahan
yang diciptakan Allah, serta ketidakmampuan alam untuk membangkang pada
perintah dan hukum-hukum Tuhan, menjadikan ilmuwan dapat memperoleh kepastian
mengenai hukum-hukum alam. Karenanya, semua itu menghantarkan pada manusia
berpotensi untuk memanfaatkan alam itu merupakan buah dari ilmu pengetahuan dan
teknologi. Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk terus berupaya meningkatkan
kemampuan ilmiahnya. Jangankan manusia biasa, Rasul Allah Muhammad SAW pun
diperintahkan agar berusaha dan berdoa agar selalu ditambah
pengetahuannya (QS Yusuf : 72).
Hal ini dapat menjadi pemicu manusia untuk
terus mengembangkan teknologi dengan memanfaatkan anugerah Allah yang
dilimpahkan kepadanya. Karena itu, laju IPTEK memang tidak dapat dibendung,
hanya saja mabusia dapat berusaha mengarahkan diri agar tidak diperturutkan
nafsunya untuk mengumpulkan harta dan IPTEK yang dapat membahayakan dirinya dan
yang lainnya.
2.3 IPTEK DI JAMAN ISLAM
Islam pernah berjaya di bidang IPTEK
sekitar abad VIII sampai dengan abad XIII. Tradisi keilmuan umat Islam
dipelopori oleh Al-Kindi (filosof penggerak dan pengembang ilmu pengetahuan)
yang mengatakan bahwa Islam itu dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi
dari manapun sumbernya, asalkan tidak bertenangan dengan akidah dan syariat.
Hal ini sejalan dengan hadits nabi yang menyuruh umatnya berlayar sampai ke negeri
China untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Padahal China adalah negara non
muslim. Menurut Harun Nasution, pemikiran rasional berkembang pada jaman Islam
(650-1250 M). Pemikiran ini dipengaruhi oleh persepsi tentang bagaimana
tingginya kedudukan akal seperti yang terdapat dalam al-Qur`an dan hadits.
Persepsi ini bertemu dengan persepsi yang sama dari Yunani melalui filsafat dan
sains Yunani yang berada di kota-kota pusat peradaban Yunani di Dunia Islam
Zaman Klasik, seperti Alexandria (Mesir), Jundisyapur (Irak), Antakia (Syiria),
dan Bactra (Persia). W. Montgomery Watt menambahkan lebih rinci bahwa ketika
Irak, Syiria, dan Mesir diduduki oleh orang Arab pada abad ketujuh, ilmu
pengetahuan dan filsafat Yunani dikembangkan di berbagai pusat belajar. Terdapat
sebuah sekolah terkenal di Alexandria, Mesir, tetapi kemudian dipindahkan
pertama kali ke Syiria, dan kemudian pada sekitar tahun 900 M ke Baghdad. Maka
para khalifah dan para pemimpin kaum Muslim lainnya menyadari apa yang harus
dipelajari dari ilmu pengetahuan Yunani. Mereka mengagendakan agar
menerjemahkan sejumlah buku penting dapat diterjemahkan. Beberapa terjemahan
sudah mulai dikerjakan pada abad kedelapan. Penerjemahan secara serius baru
dimulai pada masa pemerintahan al-Ma’mūn (813-833 M). Dia mendirikan Bayt
al-Ḥikmah, sebuah lembaga khusus penerjemahan. Sejak saat itu dan seterusnya,
terdapat banjir penerjemahan besar-besaran. Penerjemahan terus berlangsung
sepanjang abad kesembilan dan sebagian besar abad kesepuluh.
2.4 MASA KEJAYAAN DAN KEMUNDURAN
IPTEK DIKALANGAN ISLAM
Dari buku “Ilmuwan Muslim Sepanjang
Sejarah” yang ditulis oleh M. Natsir Arsyad, diperoleh beberapa informasi
tentang nama-nama ilmuwan Islam yang mengharumkan namanya. Diantaranya adalah
Al-Khawārizmī (Algorismus atau Alghoarismus) merupakan tokoh penting dalam
bidang matematika dan astronomi. Istilah teknis algorisme diambil dari namanya.
Dia memberi landasan untuk aljabar. Istilah “algebra” diambil dari judul
karyanya. Karya-karyanya adalah rintisan pertama dalam bidang aritmatika yang
menggunakan cara penulisan desimal seperti yang ada dewasa ini, yakni
angka-angka Arab. Al-Khawārizmī dan para penerusnya menghasilkan metode-metode
untuk menjalankan operasi-operasi matematika yang secara aritmatis mengandung
berbagai kerumitan, misalnya mendapatkan akar kuadrat dari satu angka. Di
antara ahli matematika yang karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin
adalah al-Nayrīzī atau Anaritius (w. 922 M) dan Ibn al-Haytham atau Alhazen (w.
1039 M). Ibn al-Haytham menentang teori Eucleides dan Ptolemeus yang menyatakan
bahwa sinar visual memancar dari mata ke obyeknya, dan mempertahankan pandangan
kebalikannya bahwa cahayalah yang memancar dari obyek ke mata. Di bidang
astronomi, al-Battānī (Albategnius) menghasilkan table-tabel astronomi yang
luar biasa akuratnya pada sekitar tahun 900 M. Ketepatan observasi-observasinya
tentang gerhana telah digunakan untuk tujuan-tujuan perbandingan sampai tahun
1749 M. Selain al-Battānī, ada Jābir ibn Aflaḥ (Geber) dan al-Biṭrūjī (Alpetragius).
Jābir ibn Aflaḥ dikenal karena karyanya di bidang trigonometri sperik. Di
bidang astronomi dan matematika, ada juga Maslamah al-Majrīṭī (w. 1007 M), Ibn
al-Samḥ, dan Ibn al-Ṣaffār. Ibn Abī al-Rijāl (Abenragel) di bidang astrologi.
Dalam bidang kedokteran ada Abū Bakar
Muḥammad ibn Zakariyyā al-Rāzī atau Rhazes (250-313 H/864-925 M atau 320 H/932
M) , Ibn Sīnā atau Avicenna (w. 1037 M), Ibn Rushd atau Averroes (1126-1198 M),
Abū al-Qāsim al-Zahrāwī (Abulcasis), dan Ibn Ẓuhr atau Avenzoar (w. 1161 M).
Al-Ḥāwī karya al-Rāzī merupakan sebuah ensiklopedi mengenai seluruh
perkembangan ilmu kedokteran sampai masanya. Untuk setiap penyakit dia
menyertakan pandangan-pandangan dari para pengarang Yunani, Syiria, India,
Persia, dan Arab, dan kemudian menambah catatan hasil observasi klinisnya
sendiri dan menyatakan pendapat finalnya. BukuCanon of Medicine karya
Ibnu Sīnā sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12 M dan terus
mendominasi pengajaran kedokteran di Eropa setidak-setidaknya sampai akhir abad
ke-16 M dan seterusnya. Tulisan Abū al-Qāsim al-Zahrāwī tentang pembedahan
(operasi) dan alat-alatnya merupakan sumbangan yang berharga dalam bidang
kedokteran.
Dalam bidang kimia ada Jābir ibn Ḥayyān (Geber) dan al-Bīrūnī (362-442 H/973-1050 M). Sebagian karya Jābir ibn Ḥayyān memaparkan metode-metode pengolahan berbagai zat kimia maupun metode pemurniannya. Sebagian besar kata untuk menunjukkan zat dan bejana-bejana kimia yang belakangan menjadi bahasa orang-orang Eropa berasal dari karya-karyanya. Sementara itu, al-Bīrūnī mengukur sendiri gaya berat khusus dari beberapa zat yang mencapai ketepatan tinggi. Tetapi dari tahun ke tahun para ilmuwan muslim yang muncul semakin sedikit, salah satunya dari Negara Indonesia adalah Prof. Dr. B. J. Habibie dalam bidang kedirgantaraan.
Disamping dari tahun ke tahun ilmuwan muslim yang muncul sedikit, menurut Prof. Dr. Abdus Salam dalam bukunya “Sains dan Dunia Islam” yang diterjemahkan oleh Prof. Dr. Achmad Baiquni yang mengatakan : “Pada hemat saya, matinya kegiatan sains di persemakmuran Islam lebih banyak disebabkan faktor-faktor internal”. Ibnu Khaldun seorang tokoh sejarahwan sosial mengatakan : “Kita mendengar baru-baru ini, bahwa di tanah bangsa Franka dan di pesisir Timur Tengah sedang ditumbuhkan ilmu-ilmu filsafat dengan giat”. Atas perkataan Ibnu Khaldun di atas, Prof. Abdus Salam mengatakan : “Ibnu Khaldun tidak memperlihatkan sikap ingin tahu atau menyesal, justru sikap acuh yang hampir mendekati permusuhan”. Dari ungkapan Prof. Abdus Salam tersebut, sejak saat itu telah muncul dikotomi antara ayat-ayat kitabiyyah dan ayat-ayat khauniyyah dikalangan muslim. Jadi timbul persepsi bahwa Islam hanya berbicara tentang ilmu-ilmu sesuai dengan Al-Qur’an, tetapi tanpa mempelajari dan mengembangkan ilmu-ilmu yang ada di Al-Qur’an dengan melihat fenomena-fenomena alam semesta. Sehingga itu merupakan salah satu faktor kemunduran ilmu pengetahuan di kalangan Islam.
Dalam bidang kimia ada Jābir ibn Ḥayyān (Geber) dan al-Bīrūnī (362-442 H/973-1050 M). Sebagian karya Jābir ibn Ḥayyān memaparkan metode-metode pengolahan berbagai zat kimia maupun metode pemurniannya. Sebagian besar kata untuk menunjukkan zat dan bejana-bejana kimia yang belakangan menjadi bahasa orang-orang Eropa berasal dari karya-karyanya. Sementara itu, al-Bīrūnī mengukur sendiri gaya berat khusus dari beberapa zat yang mencapai ketepatan tinggi. Tetapi dari tahun ke tahun para ilmuwan muslim yang muncul semakin sedikit, salah satunya dari Negara Indonesia adalah Prof. Dr. B. J. Habibie dalam bidang kedirgantaraan.
Disamping dari tahun ke tahun ilmuwan muslim yang muncul sedikit, menurut Prof. Dr. Abdus Salam dalam bukunya “Sains dan Dunia Islam” yang diterjemahkan oleh Prof. Dr. Achmad Baiquni yang mengatakan : “Pada hemat saya, matinya kegiatan sains di persemakmuran Islam lebih banyak disebabkan faktor-faktor internal”. Ibnu Khaldun seorang tokoh sejarahwan sosial mengatakan : “Kita mendengar baru-baru ini, bahwa di tanah bangsa Franka dan di pesisir Timur Tengah sedang ditumbuhkan ilmu-ilmu filsafat dengan giat”. Atas perkataan Ibnu Khaldun di atas, Prof. Abdus Salam mengatakan : “Ibnu Khaldun tidak memperlihatkan sikap ingin tahu atau menyesal, justru sikap acuh yang hampir mendekati permusuhan”. Dari ungkapan Prof. Abdus Salam tersebut, sejak saat itu telah muncul dikotomi antara ayat-ayat kitabiyyah dan ayat-ayat khauniyyah dikalangan muslim. Jadi timbul persepsi bahwa Islam hanya berbicara tentang ilmu-ilmu sesuai dengan Al-Qur’an, tetapi tanpa mempelajari dan mengembangkan ilmu-ilmu yang ada di Al-Qur’an dengan melihat fenomena-fenomena alam semesta. Sehingga itu merupakan salah satu faktor kemunduran ilmu pengetahuan di kalangan Islam.
Kita juga sering mendengar ungkapan
cendekiawan Islam maupun ulama bahwa penemuan-penemuan ilmiah yang mutakhir
diungkap dari Al-Qur’an. Tetapi fakta berbicara bahwa yang menemukan bukanlah
orang Islam, tetapi orang-orang baratlah yang menemukan. Kalangan Islam baru
sadar bahwa prinsip ilmu itu ada dalam Al-Qur’an setelah ilmu itu diketemukan
oleh orang non Islam. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kalangan Islam senantiasa
tertinggal dalam perkembangan IPTEK dan terlambat dalam menafsirkan kebenaran
ilmu itu dari Al-Qur’an.
Demikian sekilas gambaran kemajuan dan
kemunduran IPTEK di kalangan Islam, sehingga saat ini ilmuwan di kalangan Islam
sedikit memberikan sumbangsih pada pertumbuhan dan kemajuan IPTEK secara
keseluruhan.
Syarat bangkitnya Ilmu Pegetahuan dan Teknologi (IPTEK) di
kalangan Islam
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh kalangan Islam apabila berkehendak untuk membangkitkan kembali IPTEK di dunia Islam.
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh kalangan Islam apabila berkehendak untuk membangkitkan kembali IPTEK di dunia Islam.
Pertama, kita harus menyadari dan
memahami kembali bahwa tugas kekhalifahan tidak lain adalah memakmurkan bumi
dan berupaya menciptakan bayang-bayang syurga di bumi. Alat untuk mengemban
tugas tersebut adalah IPTEK.
Kedua, kita harus mampu
menangkap pesan-pesan yang terkandung dalam wahyu yang pertama kali turun. Jika
diperhatikan kata iqra’ (baca), maka kita akan dapati bahwa tidak ada obyek
khusus yang harus di baca, tetapi obyeknya bersifat umum, meliputi segala
sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut, yaitu alam semesta, masyarakat
dan manusia itu sendiri.
Ketiga, kalangan
Islam harus menyadari dan memahami bahwa hampir seperdelapan ayat-ayat
Al-Qur’an sebenarnya kita ditegur, agar kalangan Islam senantiasa mempelajari
alam semesta, untuk berfikir dengan menggunakan penalaran yang sebaik-baiknya,
untuk menjadikan kegiatan ilmiah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari
kehidupan umat Islam.
Keempat,
kita harus ingat sabda Nab Muhammad SAW : “ Sesungguhnya orang yang berilmu
adalah pewaris Nabi” , kalimat tersebut mempunyai dua sisi yang merupakan satu
kesatuan. Sisi pertama, memang orang berilmulah yang berhak disebut sebagai
pewaris Nabi, dan sisi kedua, orang-orang yang mewarisi akhlak Nabilah yang
layak disebut sebagai pewaris Nabi. Dengan demikian orang memiliki ilmu dan
berakhlakul karimah Nabi yang layak disebut pewaris Nabi dalam segala bidang
ilmu apapun yang ditekuninya.
Kelima, kita
harus menyadari dan memahami bahwa Al-Qur’an QS Az Zumar ayat
9 menekankan bahwa apakah sama orang yang mempunyai ilmu pengetahuan dengan
orang-orang yang tidak berpengetahuan. Ayat di atas merupakan sindiran
untuk menyadarkan kalangan Islam agar mempunyai kesadaran ilmiah.
Keenam, Para penguasa (pengambil keputusan) hendaknya menyadari dan
memahami bahwa kedudukan mereka sangat startegis dalam menumbuhkan suasan
kehidupan ilmiah, karena tumbuh suburnya IPTEK ergantung pada kebijakan-kebijakan
yang dilahirkan.
Ketujuh, para konglongmerat
muslim seharusnya bersatu dalam suatu wadah untuk membiayai proyek atau
program-program yang berkenaan dengan pengembangan IPTEK.
Kedelapan, para
pengasuh pondok pesantren mulai membuka diri pada IPTEK, dengan memasukkan
IPTEK pada kurikulum dan kegiatannya, tanpa menggeser agama.
Dari delapan syarat di atas, merupakan faktor penting bagi kebangkitan IPTEK di kalangan Islam.
Dari delapan syarat di atas, merupakan faktor penting bagi kebangkitan IPTEK di kalangan Islam.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari makalah yang berjudul “Iptek dalam Perspektif Pemikiran Islam” ini dapat di ambil
kesimpulan:
1.
Perkembangan
IPTEK adalah hasil dari segala langkah dan pemikiran untuk memperluas,
memperdalam, dan mengembangkan IPTEK.
2.
Peran Islam
dalam perkembangan teknologi:
·
Menjadikan
Aqidah Islam sebagai paradigm pemikiran dan Ilmu Pengetahuan.
·
Menjadikan
Syariah Islam sebagai standar penggunaan IPTEK.
3.
Pandangan Islam
terhadap Iptek adalah Iptek merupakan suatu hal yang tidak bisa ditinggalkan
oleh seseorang, karena sangat pentingnya Iptek, maka hal tersebut sering
disebut dalam Al-Qur’an. dalam arti Islam sangat menganjurkan pengembangan
Iptek.
3.2
Saran
Setiap muslim harus bisa memanfaatkan alam yang ada
untuk perkembangan IPTEK. Dengan cara mencari ilmu dan mengamalkan dan tetap
berpegang teguh pada syariah Islam.
DAFTAR
PUSTAKA
Munawar,
Said Aqil, 2002. Al-Quran Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki. Jakarta: Ciputat
Press
Shihab,
Quraish, 1999. Mukjizat Al-Quran. Bandung: Mizan
. Agus. M.Si,
2011, ILMU PENGETAUAN DAN TEKNOLOGI DALAM PANDANGAN ISLAM ,http://4g0e5.wordpress.com/2011/12/23/ilmu-pengetauan-dan-teknologi-dalam-pandangan-islam-2/, diakses pada tanggal 22
November 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar